Monday, 30 March 2015

makalah MPTA (pengertian teori dan merumuskan hipotesis)

BAB     I
P E N D A H U L U A N

A.   Latar Belakang

Dalam usaha meningkatkan suasana Akademik dikampus serta dalam upaya memadu penyajian pengalaman belajar yang menumbuhkan sikap, kemampuan, dan keterampilah meneliti pada mahasiswa, Metode Penulisan Tugas Akhir  merupakan hal yang esensial.
Setiap mata kuliah diharapkan mampu menumbulkan kegairahan meneliti dan dapat memberikan pengalaman belajar yang menumbuhkan sikap, kemampuan, da keterampilan meneliti pada Mahasiswa. Untuk itu, penguasan tenaga pengajar terhadap Metode Penulisan Tugas Akhir  merupakan hal yang sangan penting untuk diperhatikan dan dipelari, dengan penguasaan Metode Penulisan Tugas Akhir  yang mantap, diharapkan para tenaga pengajar dapat menyertakan metode-metode penelitian serta hal-hal yang berkaitan dengan penelitian dalam bidang yang sedang diajarkan.
Penelitian  merupakan  salah  satu  unsur  penting  dalam  kehidupan.  Dengan dilakukan penelitian maka dihasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Untuk melakukan penelitian maka harus dilewati berbagai tahapan. Hal ini sesuai dengan pengertian penelitian ilmiah itu sendiri yakni menjawab masalah berdasarkan metode yang sistematis. Salah satu hal penting yang dilakukan terutama dalam penelitian kuantitatif adalah merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif. Terdapat tiga
alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya: Pertama, Hipotesis dapat
dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan
untuk  menjelaskan  permasalahan  yang  akan  diteliti.  Misalnya,  sebab  dan  akibat
dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik. Kedua, Hipotesis dapat
diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau difalsifikasi. Ketiga,
hipotesis  adalah  alat  yang  besar  dayanya  untuk  memajukan  pengetahuan  karena
membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji
untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat
peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Namun tidak semua peneliti mampu menyusun hipotesis dengan baik terutama
peneliti pemula. Masih banyak terdapat kesalahan dalam menyusun hipotesis. Untuk
menyusun  hipotesis  yang  baik  setidaknya  peneliti  harus  mengacu  pada  kriteria
perumusan   hipotesis,   bagaimana   jenis-jenis   hipotesis   dalam   penelitian,   maupun
pemahaman tentang penelitian tanpa menggunakan hipotesis. Selain itu seorang peneliti
juga harus mengetahui bagaimana cara menguji hipotesis agar terhindar dari kekeliruan
yang mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis. Berdasarkan latar belakang tersebut,
maka makalah ini akan membahas mengenai hakikat hipotesis hingga kekeliruan yang
mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis.



B.   Masalah
Adapun permasalah yang akan dibahas dalam makalah kami ini adalah tentang pengertian kerangka teori.
1.      Apa yang dimaksud dengan kerangka teori tersebut?
2.      Apa pengertian hipotesis?
3.      Apa saja persyaratan untuk hipotesis?
4.      Apa saja jenis-jenis hipotesis?
5.      Apa saja kekeliruan yang terjadi dalam pengujian hipotesis?
6.      Bagaimana cara menguji hipotesis?
7.      Apakah semua penelitian harus berhipotesis?

C.  Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah kami ini adalah, membantu pemahaman terhadap kita tentang kerangka teori atau landasan teori dan merumuskan hipotesis, yang merupakan bagian dari Materi Metode Penulisan Tugas Akhir, disamping itu, bertujuan untuk memenuhi tugas terstruktur untuk mata kuliah Metode Penulisan Tugas Akhir.



























BAB    II
P E M B A H A S A N
A.   Pengertian Teori

Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk melaksanakan penelitian (Sumadi Suryabrata, 1990).

Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini merupkan cirri bahwa penelitian itu merupkan cara ilmiah untuk mendapatkan data.

Mark 1963, dalam (Sitirahayu Haditono, 1999), membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain :
1.  Teori yang deduktif : Memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu  kearah data yang akan diterangkan
2.  Teori yang induktif : adalah cara menerangkan dari data kearah teori.
3.  Teori yang Fungsional : disini tampak satu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data

Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut:

1.  Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya sifat hubungan yang deduktif. Suatu hukum menunjukan hubungan antara Variabel-Variabel empiris dan dapat diramal sebelumnya
2.         Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suat kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. Disini orang mulai dari data yang diperoleh dan itu dating suatu konsep yang teoritis (induktif)
3.         Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yan menggeneralisasi.  Di sini biasanya terdapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat yang teoritis.

Berdasarkan data tersebut diatas secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau system pengertian ini dapat diperoleh melalui jalan yang sistematis, suatu teori dapat diuji kebenarannya, bila tidak maka dia bukan teori.
Kerangka teori sering kali diartikan senada dengan kerangka pikir, Apa yang dimaksud dengan kerangka pikir ?, Kerangka pikir adalah proses yang  sangat penting dalam menyusun suatu penelitian, karena dalam proses ini pembaca dapat mengetahui apa yang akan dilakukan oleh peneliti, dan bagaimana urutan penelitian  itu dilakukan.
Kerangka pikir penelitian merupakan urut-urutan logis dari pemikiran peneliti untuk memecahkan suatu masalah penelitian, yang dituangkan dalam bentuk bagan dengan penjelasannya.  Beberapa ahli memberi definisi sebagai berikut:
Menurut Muhamad (2009:75) Kerangka pikir adalah gambaran mengenai hubungan antar variabel dalam suatu penelitian, yang diuraikan oleh jalan pikiran menurut kerangka logis.   Menurut Riduwan (2004:25) Kerangka berfikir adalah dasar pemikiran dari penelitian yang disintesiskan dari fakta-fakta, observasi dan telaah penelitian.  Kerangka pikir memuat teori, dalil atau konsep-konsep yang akan dijadikan dasar dalam penelitian.   Uraian dalam kerangka pikir ini menjelaskan antar variabel.
Selanjutnya menurut Sekaran  (1992:72) kerangka berpikir yang baik adalah memenuhi syarat sebagai berikut :
1.   Variabel penelitian diidentifikasikan secara jelas dan diberi nama
2.         Uraiannya menyatakan bagaimana dua atau lebih variabel berhubungan satu dengan lainnya
3.   Jika sifat dan arah hubungan dapat diteorikan berdasarkan penemuan dari penelitian sebelumnya, hal ini seharusnya menjadi dasar dalam  uraian kerangka berfikir apakah hubungan itu positif atau negatif
4.   Dinyatakan secara jelas mengapa peneliti berharap bahwa  hubungan antara variabel itu ada.
5.   Digambarkan dalam bentuk diagram skematis, sehingga pembaca dapat jelas melihat hubungan antar variable
6.   Pada analisis kuantitatif, kerangka pikir ini memuat latar belakang masalah, kemudian masalah yang diteliti, dan dilanjutkan dengan metode serta variabel penelitian.  Terakhir kerangka ini biasanya memuat tujuan penelitian, saran  atau kesimpulan penelitian. Sebelum ataupun setelah dibuat bagan kerangka pikir penelitian, maka biasanya peneliti  membuat penjelasan runtut dan sistematis terkait dengan bagan yang akan / telah dibuatnya tersebut
Kerangka teori dijabarkan dari tinjauan pustaka dan disusun oleh peneliti sebagai kerangka acuan memecahkan masalah dan untuk merumuskan hipotesis (jika hipotesis dipandang perlu dicantumkan)
Hasil kajian pustaka adalah dukungan teori (apa yang dikenal dengan “kerangka teori” dan “kerangka berpikir”. Kerangka teori adalah bagian dari penelitian, tempat bagi peneliti memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan variabel pokok, sub variabel atau pokok masalah yang ada dalam penelitiannya.
Berikut ini adalah contoh penelitian, yaitu:
Kualitas Pengelolaan Kelas Ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Mengajar Guru Sekolah Dasar
            Untuk dapat menyusun kerangka teori dari  judul diatas, maka peneliti terlebih dahulu harus menentukan pengertian-pengertian yang terkandung dalam judul tersebut:
a.    Kualitas pengelolaan kelas
b.    Latar belakang pendidikan guru
c.    Pengalaman mengajar guru
d.   Pengaruh latar belakang pendidikan guru terhadap kualitas pengelolaan kelas
e.    Pengaruh pengalaman mengajar guru terhadap kualitas pengelolaan kelas.





B.   Tingkatan dan Fokus Teori

Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melaui pengumpulan data adalah  teori subtantif, karena teori ini lebih focus berlaku untuk objek yang akan diteliti

C.  Kegunaan Teori Dalam Penelitian

Kegunaan Teori dalam Penelitian adalah sebagai berikut:
1.     Digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti.
2.     (Prediksi dan pemandu untuk menemukan fakta) adalah merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif.
3.     Digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam pemecahan masalah.
4.      
D.  Deskripsi Teori
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variable yang diteliti . berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan/ dideskripsikan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah Variabel yang diteliti, Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap varibel-veriabel yang diteliti, melalui pendefenisian, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variable yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah
Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitian dapat digunakan sebagai indikator apakah penelitian menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak
Langkah-langkah untuk dapat melakukan deskripsi teori adalah sebagai berikut:
1.         Tetapkan nama Variabel yng diteliti, dan jumlah variabelnya
2.         Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedia, journal ilmiah, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variable yang diteliti
3.         Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap vaiabel yang akan diteliti. (untuk referensi yag berbentuk laporan penelitian, lihat judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis, kesimpulan dan saran yang diberikn)
4.         Cari devenisi setiap variabel yyang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih defenisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan
5.         Baca seluruh isi topik buku yang sesuiai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca
6.         Deskripsikan teori-teori yan telah dibaca dari berbagai sumber kedalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumben-sumber bacaan  yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.


E.   Kerangka Berfikir

Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti, jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel indevenden dan dependen
Seorang peneliti harus mengusai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan semantara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan (Suriasumantri, 1986)
Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti


































III. MERUMUSKAN HIPOTESIS

A.    Pengertian Hipotesis
Berdasarkan kutipan pendapat Prof. Drs. Sutrisno Hadi MA tentang pemecahan masalah, peneliti seringkali tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dengan sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan segi demi segi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk tiap-tiap segi, dan mencari jawabannya melalui penelitian yang dilakukan. Jawaban terhadap permasalahan ini dibedakan atas 2 hal sesuai dengan taraf pencapaiannya yaitu:
1.     Jawaban permasalahan yang berupa kebenaran pada taraf teoretik, dicapai melalui membaca.
2.     Jawaban permasalahan yang berupa kebenaran pada taraf praktik, dicapai setelah penelitian selesai, yaitu setelah pengolahan terhadap data.Sehubungan  dengan  pembatasan  pengertian  tersebut  maka  hipotesis  dapat  diartikan  sebagai  suatu  jawaban  yang  bersifat  sementara  terhadap  permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.

Berdasarkan arti katanya, hipotesis berasal dari 2 penggalan kata, yaitu “hypo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” yang artinya “kebenaran”. Jadi hipotesis yang kemudian  cara  menulisnya  disesuaikan  dengan  Ejaan  Bahasa  Indonesia  menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis.
Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu di uji (di bawah kebenaran). Inilah hipotesis. Selanjutnya peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis. Peneliti mengumpulkan data-data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul, peneliti akan menguji apakah hipotesis yang dirumuskan dapat naik status menjadi tesa, atau sebaliknya, tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti.
Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan, peneliti dapat bersikap dua hal:
1.     Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti (pada akhir penelitian).
2.     Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).
Untuk mengetahui kedudukan hipotesis antara lain:
1.     Perlu diuji apakah ada data yang menunjuk hubungan antara variabel penyebab dan variabel akibat.
2.     Adakah  data  yang  menunjukkan  bahwa  akibat  yang  ada,  memang ditimbulkan oleh penyebab itu.
3.     Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.







Apabila ketiga hal tersebut dapat dibuktikan, maka hipotesis yang dirumuskan mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian. Namun tidak selalu semua penelitian harus berorientasikan hipotesis, walaupun hipotesis ini sangat penting sebagai pedoman kerja dalam penelitian. Jenis penelitian eksploratif,  survei,  atau  kasus,  dan  penelitian  development  biasanya  justru  tidak berhipotesis karena tujuan penelitian jenis ini bukan untuk menguji hipotesis tetapi mempelajari tentang gejala-gejala sebanyak-banyaknya.      
G.E.R Brurrough mengatakan bahwa penelitian berhipotesis penting dilakukan
bagi:
1.  Penelitian menghitung banyaknya sesuatu (magnitude).
2.  Penelitian tentang perbedaan (differencies).
3.  Penelitian hubungan (relationship).
Deobold Van Dalen mengutarakan adanya 3 bentuk inter relationship studies yang termasuk penelitian hipotesis yaitu:
a.  Case studies
b.  Causal comparative studies
c.  Correlations studies
B.    Syarat-syarat Hipotesis
Hipotesis  merupakan  suatu  pernyataan  yang  penting  kedudukannya  dalam penelitian. Oleh karena itulah maka dari peneliti dituntut kemampuannya untuk dapat merumuskan hipotesis ini dengan jelas.
Borg dan Gall (1979: 61) mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis sebagai
berikut:
1.  Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas.
2.  Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel.
3.  Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan.
C.        Jenis-jenis Hipotesis
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian:
1. Hipotesis kerja atau alternatif, disingkat Ha.
     Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.
Rumusan hipotesis kerja:
a.  Jika... maka...
b.  Ada perbedaan antara... dan... dalam...
c.  Ada pengaruh... terhadap...
2. Hipotesis nol (null hypotheses) disingkat Ho.
Hipotesis ini menyatakan tidak ada perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y.
Dengan kata lain, selisih variabel pertama dengan variabel kedua adalah nol atau nihil.




Hipotesis nol sering juga disebut hipotesis statistik, karena biasanya dipakai dalam  penelitian  yang  bersifat  statistik,  yaitu  diuji  dengan  perhitungan statistik.
Rumusan hipotesis nol:
a.  Tidak ada perbedaan antara... dengan... dalam...
b.  Tidak ada pengaruh... terhadap...
Dalam pembuktian, hipotesis alternatif (Ha) diubah menjadi Ho, agar peneliti tidak mempunyai   prasangka.   Jadi,   peneliti   diharapkan   jujur,   tidak   terpengaruh pernyataan Ha. Kemudian dikembangkan lagi ke Ha pada rumusan akhir pengetesan hipotesis.

D. Kekeliruan yang Terjadi dalam Pengujian Hipotesis
Benar  dan  tidaknya  hipotesis  tidak  ada  hubungannya  dengan  terbukti  dan tidaknya hipotesis tersebut. Seorang peneliti mungkin merumuskan hipotesis yang isinya benar, tetapi setelah data terkumpul dan dianalisis ternyata hipotesis tersebut ditolak, atau tidak terbukti. Sebaliknya mungkin seorang peneliti merumuskan sebuah hipotesis yang salah, tetapi setelah dicocokkan dengan datanya, hipotesis yang salah tersebut terbukti. Dalam hal lain dapat terjadi perumusan hipotesisnya benar tetapi ada kesalahan dalam  penarikan  kesimpulan.  Kesalahan  penarikan  kesimpulan  tersebut  barangkali disebabkan karena kesalahan sampel, kesalahan perhitungan ada pada variabel lain yang mengubah  hubungan  antara  variabel  belajar  dan  variabel  prestasi  yang  pada  saat pengujian hipotesis ikut berperan.
Macam kekeliruan ketika membuat kesimpulan tentang hipotesis:

Kesimpulan dan Keputusan
Keadaan Sebenarnya
Terima hipotesis
Hipotesis benar
Hipotesis salah
Tolak hipotesis
Kekeliruan macam I
Tidak membuat kekeliruan

Selanjutnya  ditentukan  bahwa  probabilitas  melakukan  kekeliruan  macam  I dinyatakan dengan ɑ (alpha), sedangkan melakukan kekeliruan macam II dinyatakan dengan β (beta). Nama-nama ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis kesalahan. Kesalahan tipe I ini disebut taraf signifikansi pengetesan, artinya kesediaan yang berwujud besarnya probabilitas jika hasil penelitian terhadap sampel akan diterapkan pada populasi. Besarnya taraf signifikansi ini pada umumnya sudah diterapkan terlebih dahulu. Untuk penelitian-penelitian di bidang ilmu pendidikan pada umumnya digunakan taraf signifikansi 0,05 atau 0,01, sedangkan untuk peneliti obat-obatan yang resikonya
menyangkut jiwa manusia, diambil 0,005 atau 0,001, bahkan mungkin 0,0001.









E. Penelitian Tanpa Hipotesis
Pendapat  pertama  mengatakan,  semua  penelitian  pasti  berhipotesis.  Semua peneliti diharapkan menentukan jawaban sementara, yang akan diuji berdasarkan data yang diperoleh. Hipotesis harus ada karena jawaban penelitian juga harus ada, dan butirbutirnya sudah disebut dalam problematika maupun tujuan penelitian.




Pendapat kedua mengatakan, hipotesis hanya dibuat jika yang dipermasalahkan menunjukkan hubungan antara dua variabel atau lebih. Jawaban untuk satu variabel yang sifatnya deskriptif,  tidak perlu dihipotesiskan. Penelitian eksploratif yang jawabannya masih dicari dan sukar diduga, tentu sukar ditebak apa saja, atau bahkan tidak mungkin dihipotesiskan.
Berdasarkan pendapat kedua ini maka mungkin sekali di dalam sebuah penelitian, banyak hipotesis tidak sama dengan banyaknya problematika dan tujuan penelitian. Mungkin problematika unsur 1 dan 2 yang sifatnya deskriptif tidak diikuti dengan hipotesis, tetapi problematika nomor 3 dihipotesiskan.
Contoh:Hubungan antara motivasi berprestasi dengan etos kerja para karyawan kantor A.
Problematika  1: Seberapa tinggi motivasi berprestasi karyawan kantor A?
                              (tidak dihipotesiskan).
Problematika 2:    Seberapa tinggi etos kerja karyawan kantor A? (tidak dihipotesiskan) Problematika     3:                        Apakah ada dan seberapa tinggi hubungan antara motivasi berprestasi
                              dengan etos kerja karyawan kantor A?
Hipotesis:              Ada hubungan yang tinggi antara motivasi berprestasi dengan etos kerja
                             
karyawan kantor A.


















BAB    IV
P E N U T U P

A.    Kesimpulan

Dalam melakukan suatu penelitian terhadap fenomena sosial, seorang peneliti tidak dapat bekerja dengan baik tanpa suatu sistematika yang sesuai. Untuk menemukan jawaban yang sesuai serta memuaskan, peneliti harus memahami kaidah dalam meneliti. Tahapan awal dari suatu penelitian adalah menciptakan pertanyaan mengenai suatu fenomena yang dipilih untuk diteliti. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan definisi, fakta dan nilai suatu objek kajian.
Teori yang deduktif : Memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu  kearah data yang akan diterangkan, Teori yang induktif : adalah cara menerangkan dari data kearah teori. Teori yang Fungsional : disini tampak satu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.
Sebagai pedoman kerja, peneliti menetapkan sebuah hipotesis yang dijadikan arah dalam  menetapkan  variabel,  mengumpulkan  data,  mengolah  data  dan  mengambil kesimpulan.  Pada  dasarnya,  pekerjaan  meneliti  adalah  usaha  untuk  membuktikan hipotesis.Hipotesis merupakan jawaban sementara yang harus diuji. Pengujian itu bertujuan untuk membuktikan apakah hipotesis diterima atau ditolak. Hipotesis berfungsi sebagai kerangka kerja bagi peneliti, memberi arah kerja, dan mempermudah dalam penyusunan laporan penelitian.
Ada 2 macam hipotesis, yaitu hipotesis kerja, yang juga disebut hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis nol (Ho) (hipotesis nihil) yang juga disebut hipotesis statistik. Sehubungan dengan perumusan hipotesis maka ada 2 kekeliruan yang kita buat:
a.  Menolak hipotesis yang seharusnya diterima, disebut kekeliruan alpha (ɑ).
b.  Menerima hipotesis yang seharusnya ditolak, disebut kekeliruan beta (β).

B.     Saran
Dengan segenap kelmahan selaku insan yang tak berdaya, kami sadar akan kelemahan kami, tugas yang diharapkan belumlah mencapai kesempurnaan, untuk itu kami mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca guna kami berbuat yang lebih baik lagi. penelitian merupakan cara
primer manusia dalam mengembangkan kajian ilmu. Dengan berkembangnya ilmu
bimbingan  dan  konseling  tentunya  akan  mempermudah  personal-personal  dalam
menghadapi persoalan-persoalan hidup yang makin kompleks mengikuti perkembangan
masa.









DAFTAR PUSTAKA


Mahsun,Prof. Dr. M.S. Metode Penelitian Bahasa, terhadap strategi, metode dan tekniknya, Jakarta : PT Raja Grapindo Persada, 2007
Sugiyono Prof. Dr., metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kulaitatif dan R & D, Bandung : Cv. Alfa Beta, 2009
Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta